Templates by BIGtheme NET

Hidup Damai Di Pulau Matutuang Bersama Warga Kelahiran Filipina

Matutuang

Ada yang menarik dari Daftar Pemilih Sementara (DPS) Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara Tahun 2015 yang tertempel di Rumah Dinas Kepala Desa Matutuang, Kecamatan Kepulauan Marore, Kabupaten Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara.

DPS di tempat pemungutan suara itu dipenuhi dengan nama-nama warga Matutuang yang di kolom kelahirannya tertulis “Filipina”. Ternyata banyak warga yang tinggal di Matutuang memang lahir di Filipina. Mereka adalah etnis Sanger, tetapi punya kerabat di Filipina. Pulau Matutuang memang dekat dengan Filipina.

Walau bukan merupakan pulau terluar, Matutuang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Kepulauan Marore, yang merupakan wilayah perbatasan Indonesia-Filipina di bagian utara Sulawesi.

“Warga saya banyak memang merupakan keturunan orang Filipina atau etnis Sanger yang lahir di sana, tetapi mereka warga negara Indonesia,” ujar Kepala Desa Matutuang Herry Sumolang bulan lalu saat penulis mengunjungi pulau ini.

Herry bahkan menjelaskan, masih ada beberapa orang yang berkewarganegaraan Filipina, tetapi tinggal di Matutuang. Mereka umumnya menikahi perempuan asal Matutuang dan harus tinggal di pulau itu.

“Mereka sudah menyatakan keinginan untuk menjadi warga negara Indonesia, tetapi prosesnya memang agak sulit. Mereka harus menjalani sidang untuk menyatakan keinginan itu, sementara jarak ke ibu kota Sangihe di Tahuna cukup jauh,” ungkap Herry.

Dia sudah melaporkan hal itu dan berkonsultasi dengan Pemerintah Daerah Sangihe, serta berharap Pengadilan Negeri Sangihe bisa melakukan sidang di Matutuang. Sebab jika harus mengajak para warga negara Filipina itu ke Sangihe, ada kendala terkait transportasi laut.

Pulau Matutuang terbilang jauh dari Tahuna. Memang ada transportasi laut dengan kapal perintis. Namun, rute yang hanya mencakup Matutuang dan pulau-pulau lainnya itu hanya berlaku dua minggu sekali. Matutuang dulu memang merupakan pulau tak berpenghuni. Pulau ini hanya menjadi tempat singgah para nelayan dari Pulau Marore, pulau terluar Indonesia, saat mereka mencari ikan.

Para nelayan dari Filipina juga kerap singgah di pulau ini. Lama-kelamaan, Matutuang menjadi tempat bermukim tetap para nelayan itu. Mereka kemudian membangun pondok-pondok kecil, lalu berkembang menjadi perkampungan. Pada tahun 1980, Matutuang kemudian diakui sebagai salah satu dusun dari Marore.

“Tahun 2008, pulau ini kemudian dimekarkan menjadi Desa Matutuang, dan saya ditunjuk sebagai kepala desanya hingga sekarang. Saya sendiri berasal dari Marore,” ujar Herry.

Kini, pulau seluas 31 hektar itu telah dihuni oleh sedikitnya 130 kepala keluarga. Menjadi nelayan merupakan pekerjaan utama selain berkebun kelapa dan singkong. Sebagaimana pulau-pulau yang berada di garis terluar, Matutuang tidak bisa menghindari percampuran para pendatang dari negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia.

Pemerhati wilayah perbatasan, Pitres Sombowadile, mengatakan, tidak gampang membedakan mana orang Filipina dan mana orang Sangihe di kawasan perbatasan pulau-pulau.
“Banyak warga kita yang sudah beberapa generasi di Filipina. Bahkan, historisnya, pulau-pulau Sangihe Talaud dan wilayah selatan Filipina sejak dulu berbagi sejarah, kerajaan, dan hubungan kekeluargaan yang kuat,” kata Pitres.

Menurut dia, sejak tahun 1957, ihwal pemulangan warga kedua pihak sudah diatur. Namun, upaya itu selalu gagal, khususnya di pihak Nusa Utara, sebutan untuk wilayah yang mencakup Talaud, Sangihe, dan Sitaro.

Namun dengan kondisi seperti itu tidak menjadikan warga Matutuang merasa terancam dan khawatir dengan kehadiran warga keturunan negara lain di pulau mereka. Mereka merasa aman-aman saja dan tetap hidup secara rukun dan damai, terutama kalangan pemudanya.

Para pemuda menganggap orang Filipina yang datang singgah di pulau mereka harus diterima dengan tangan terbuka, dan diperlakukan dengan ramah. Justru karena keramahan itu pulalah mereka bisa saling menerima satu sama lain. Kwain mawin pun terjadi dan mereka malah merasa sudah menjadi bagian dari Indonesia.

Hidup dan mati mereka saat ini adalah Indonesia, sebagaimana mereka mengolah tanah menjadi sumber penghidupan dan mengantungkan penghasilan dari menangkap ikan di laut. Orang Filipina memang dikenal gesit di laut hingga tak takut menerjang ombak dari negara melintasi samudera. Walau sering pulang pergi ke Filipina, namun mereka tetap menjaga rasa persatuan dengan warga lokal di Matutuang.

Seluruh warga di pulau kecil tak punya kekwahatiran sama sekali paham-paham radikalisme berkembang di tengah kehidupan mereka. Para pemudanya sadar bahwa NKRI adalah harga mati yang perlu dijaga dengan cara membina hidup rukun dan damai.

“Kami semua disini hidup rukun, sehingga menjadi modal bagi kami menjaga kedamaian. Bisa dilihat, disini tak ada tentara yang berjaga, bahkan polisi pun hanya satu orang. Tak ada kriminalisasi dan ancaman lain yang perlu dikhawatirkan, kami cinta damai,” tegas Herry.

 #DamaiDalamSumpahPemuda