Templates by BIGtheme NET

Saat Masjid Dan Gereja Harmoni Dalam Satu Halaman

Masjid-dan-Gereja

Ada yang menarik saat menyambangi lokasi wisata di Pantai Lakban di Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Dua bangunan rumah ibadah dari dua agama yang berbeda nampak harmoni berdiri dalam satu halaman. Ini menujukkan tingkat toleransi kehidupan beragama di Kampung Buyat Pante, Dusun 5, Desa Ratatotok Timur, Kecamatan Ratatok ini sungguh terjaga. Hal ini tecermin dari bangunan masjid dan gereja yang didirikan di satu halaman tanpa pagar pembatas, bahkan nyaris berimpitan.

Kubah Masjid An-Namira yang berhadapan dengan menara Gereja GMIM Jemaat Lakban seakan menyampaikan pesan bahwa kerukunan antar kedua pemeluk agama di kampung itu menjadi pemersatu. Warga di sana sebagian besar bermata pencarian sebagai nelayan.

“Bukan hanya tersimbolisasi dari kedua bangunan itu, tetapi selama ini saya tak pernah mendapati adanya gesekan horizontal atau hal lain di kedua pemeluk agama,” ujar Pudin, seorang tokoh pemuda warga Ratatotok.

Mendirikan dua bangunan ibadah yang digunakan secara rutin dalam satu halaman tentu bukan perkara mudah. Butuh toleransi yang tinggi dari kedua umatnya, terutama toleransi saat waktu ibadah bertabrakan. Namun, menurut Pudin, warga Kampung Buyat sebagaimana warga Sulawesi Utara pada umumnya, sangat menghargai sikap toleransi.

“Jelas ini menjadi kekuatan bagi kami semua di sini agar tetap menjaga tali persaudaraan walau berbeda keyakinan. Harmonisasi itu juga terlihat pada saat ada perayaan hari raya. Misalnya, saat Idul Adha, umat muslim yang menyembelih hewan kurban ikut membagikannya ke seluruh masyarakat tanpa memandang agama dan dari suku mana pun,” kata Pudin.

Kedua bangunan tersebut dibangun sejak tahun 2004 dengan dana partisipasi masyarakat setempat dan dibantu oleh PT Newmont Minahasa Raya yang dulunya mengoperasikan perusahaan tambang emas di sana. Kini kedua bangunan yang berdiri di dekat lokasi wisata Pantai Lakban itu juga sering dijadikan tempat berfoto para wisatawan yang datang.

Mereka mengaku salut dengan toleransi yang disimbolkan dari kedua bangunan. Harapannya, ke depan kedua tempat ibadah tersebut bisa menjadi ikon toleransi di Sulawesi Utara dan Indonesia pada umumnya.

“Harapan kami di lokasi itu bisa pula dibangun berbagai fasilitas pendukung,” kata Imam Masjid An-Namira, Ustaz Dahri Pakaya.

Sulawesi Utara memang dikenal dengan tingkat kerukunan umat beragamanya. Sikap saling toleransi itu ditunjukkan dengan tidak ada masalah saat bangunan Masjid dan Gereja bahkan Vihara dan Klenteng dibangun saling berdekatan. Miniatur simbolisasi kerukunan dan kedamaian itu bisa pulua dilihat di Bukit Kasih, Kanonang. Di sana bangunan rumah ibadah dari 5 agama yang resmi diakui pemerintah didirikan, dan pemeluknya dapat menggunakannya kapan saja tanpa sekat.

Beberapa tokoh pemuda mengakui, suasana damai dan hidup rukun itu juga menjadi bagian dari komitmen mereka membangun Sulawesi Utara dan menjauhi pengaruh radikalisme dari kalangan anak muda. “Kalau bisa hidup rukun dan damai, mengapa kita harus mempersoalkan perbedaan?” ujar Pudin.

#DamaiDalamSumpahPemuda